Gerakan Pramuka Indonesia – Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Gerakan Pramuka Indonesia
Gerakan Pramuka Indonesia

Lambang Gerakan Pramuka berupa Tunas Kelapa
Pimpinan Dr. Adhyaksa Dault, S.H. (2013-2018)
Didirikan 14 Agustus 1961
Pembubaran
Negara Indonesia
Bumi Perkemahan Bumi Perkemahan dan Graha Wisata Pramuka Cibubur,Jakarta Timur
Website http://www.pramuka.or.id

Bendera Gerakan Pramuka Indonesia
Gerakan Pramuka Indonesia adalah nama organisasi pendidikan nonformal yang menyelenggarakan pendidikan kepanduan yang dilaksanakan di Indonesia. Kata “Pramuka” merupakan singkatan dari Praja Muda Karana, yang memiliki arti Orang Muda yang Suka Berkarya.

Pramuka merupakan sebutan bagi anggota Gerakan Pramuka, yang meliputi; Pramuka Siaga (7-10 tahun), Pramuka Penggalang (11-15 tahun), Pramuka Penegak (16-20 tahun) dan Pramuka Pandega (21-25 tahun). Kelompok anggota yang lain yaitu Pembina Pramuka, Andalan Pramuka, Korps Pelatih Pramuka, Pamong Saka Pramuka, Staf Kwartir dan Majelis Pembimbing.

Kepramukaan adalah proses pendidikan di luar lingkungan sekolah dan di luar lingkungan keluarga dalam bentuk kegiatan menarik, menyenangkan, sehat, teratur, terarah, praktis yang dilakukan di alam terbuka dengan Prinsip Dasar Kepramukaan dan Metode Kepramukaan, yang sasaran akhirnya pembentukan watak, akhlak, dan budi pekerti luhur. Kepramukaan adalah sistem pendidikan kepanduan yang disesuaikan dengan keadaan, kepentingan, dan perkembangan masyarakat, dan bangsa Indonesia.

Sejarah Sunting

Lambang identitas dari INPO yang berupa bendera merah dan putih berukuran 84 cm X 120 cm.
Gerakan Pramuka atau Kepanduan di Indonesia telah dimulai sejak tahun 1923 yang ditandai dengan didirikannya (Belanda) Nationale Padvinderij Organisatie (NPO) di Bandung.[1] Sedangkan pada tahun yang sama, di Jakarta didirikan (Belanda) Jong Indonesische Padvinderij Organisatie (JIPO).[1] Kedua organisasi cikal bakal kepanduan di Indonesia ini meleburkan diri menjadi satu, bernama (Belanda) Indonesische Nationale Padvinderij Organisatie (INPO) di Bandung pada tahun 1926.[1] Pendirian gerakan ini pada tanggal 14 Agustus 1961 sedikit-banyak diilhami oleh Komsomol di Uni Soviet.[2]

Organisasi Kepanduan Indonesia di seputaran tahun 1920-an.
Pada tanggal 26 Oktober 2010, Dewan Perwakilan Rakyat mengabsahkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2010 tentang Gerakan Pramuka. Berdasarkan UU ini, maka Pramuka bukan lagi satu-satunya organisasi yang boleh menyelenggarakan pendidikan kepramukaan. Organisasi profesi juga diperbolehkan untuk menyelenggarakan kegiatan kepramukaan. [3]

Masa Hindia Belanda Sunting
Kenyataan sejarah menunjukkan bahwa pemuda Indonesia mempunyai “saham” besar dalam pergerakan perjuangan kemerdekaan Indonesia serta ada dan berkembangnya pendidikan kepanduan nasional Indonesia. Dalam perkembangan pendidikan kepanduan itu tampak adanya dorongan dan semangat untuk bersatu, namun terdapat gejala adanya berorganisasi yang Bhinneka.

Organisasi kepanduan di Indonesia dimulai oleh adanya cabang “Nederlandsche Padvinders Organisatie” (NPO) pada tahun 1912, yang pada saat pecahnya Perang Dunia I memiliki kwartir besar sendiri serta kemudian berganti nama menjadi “Nederlands-Indische Padvinders Vereeniging” (NIPV) pada tahun 1916.

Organisasi Kepanduan yang diprakarsai oleh bangsa Indonesia adalah Javaansche Padvinders Organisatie; berdiri atas prakarsa S.P. Mangkunegara VII pada tahun 1916.

Kenyataan bahwa kepanduan itu senapas dengan pergerakan nasional, seperti tersebut di atas dapat diperhatikan pada adanya “Padvinder Muhammadiyah” yang pada 1920 berganti nama menjadi “Hizbul Wathan” (HW); “Nationale Padvinderij” yang didirikan oleh Budi Utomo; Syarikat Islam mendirikan “Syarikat Islam Afdeling Padvinderij” yang kemudian diganti menjadi “Syarikat Islam Afdeling Pandu” dan lebih dikenal dengan SIAP, Nationale Islamietische Padvinderij (NATIPIJ) didirikan oleh Jong Islamieten Bond (JIB) dan Indonesisch Nationale Padvinders Organisatie (INPO) didirikan oleh Pemuda Indonesia.

Hasrat bersatu bagi organisasi kepanduan Indonesia waktu itu tampak mulai dengan terbentuknya PAPI yaitu “Persaudaraan Antara Pandu Indonesia” merupakan federasi dari Pandu Kebangsaan, INPO, SIAP, NATIPIJ dan PPS pada tanggal 23 Mei 1928.

Federasi ini tidak dapat bertahan lama, karena niat adanya fusi, akibatnya pada 1930 berdirilah Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI) yang dirintis oleh tokoh dari Jong Java Padvinders/Pandu Kebangsaan (JJP/PK), INPO dan PPS (JJP-Jong Java Padvinderij); PK-Pandu Kebangsaan).

PAPI kemudian berkembang menjadi Badan Pusat Persaudaraan Kepanduan Indonesia (BPPKI) pada bulan April 1938.

Antara tahun 1928-1935 bermuncullah gerakan kepanduan Indonesia baik yang bernapas utama kebangsaan maupun bernapas agama. kepanduan yang bernapas kebangsaan dapat dicatat Pandu Indonesia (PI), Padvinders Organisatie Pasundan (POP), Pandu Kesultanan (PK), Sinar Pandu Kita (SPK) dan Kepanduan Rakyat Indonesia (KRI). Sedangkan yang bernapas agama Pandu Ansor, Al Wathoni, Hizbul Wathan, Kepanduan Islam Indonesia (KII), Islamitische Padvinders Organisatie (IPO), Tri Darma (Kristen), Kepanduan Azas Katolik Indonesia (KAKI), Kepanduan Masehi Indonesia (KMI).

Sebagai upaya untuk menggalang kesatuan dan persatuan, Badan Pusat Persaudaraan Kepanduan Indonesia BPPKI merencanakan “All Indonesian Jamboree”. Rencana ini mengalami beberapa perubahan baik dalam waktu pelaksanaan maupun nama kegiatan, yang kemudian disepakati diganti dengan “Perkemahan Kepanduan Indonesia Oemoem” disingkat PERKINO dan dilaksanakan pada tanggal 19-23 Juli 1941 di Yogyakarta.

Masa Perang Dunia II Sunting
Pada masa Perang Dunia II, bala tentara Jepang mengadakan penyerangan dan Belanda meninggalkan Indonesia. Partai dan organisasi rakyat Indonesia, termasuk gerakan kepanduan, dilarang berdiri. Namun upaya menyelenggarakan PERKINO II tetap dilakukan. Bukan hanya itu, semangat kepanduan tetap menyala di dada para anggotanya. Karena Pramuka merupakan suatu organisasi yang menjunjung tinggi nilai persatuan. Oleh karena itulah bangsa Jepang tidak mengizinkan Pramuka di Indonesia.

Masa Republik Indonesia Sunting
Sebulan sesudah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, beberapa tokoh kepanduan berkumpul di Yogyakarta dan bersepakat untuk membentuk Panitia Kesatuan Kepanduan Indonesia sebagai suatu panitia kerja, menunjukkan pembentukan satu wadah organisasi kepanduan untuk seluruh bangsa Indonesia dan segera mengadakan Kongres Kesatuan Kepanduan Indonesia.

Kongres yang dimaksud dilaksanakan pada tanggal 27-29 Desember 1945 di Surakarta dengan hasil terbentuknya Pandu Rakyat Indonesia. Perkumpulan ini didukung oleh segenap pimpinan dan tokoh serta dikuatkan dengan “Janji Ikatan Sakti”, lalu pemerintah RI mengakui sebagai satu-satunya organisasi kepanduan yang ditetapkan dengan keputusan Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan No.93/Bag. A, tertanggal 1 Februari 1947.

Tahun-tahun sulit dihadapi oleh Pandu Rakyat Indonesia karena serbuan Belanda. Bahkan pada peringatan kemerdekaan 17 Agustus 1948 waktu diadakan api unggun di halaman gedung Pegangsaan Timur 56, Jakarta, senjata Belanda mengancam dan memaksa Soeprapto menghadap Tuhan, gugur sebagai Pandu, sebagai patriot yang membuktikan cintanya pada negara, tanah air dan bangsanya. Di daerah yang diduduki Belanda, Pandu Rakyat dilarang berdiri,. Keadaan ini mendorong berdirinya perkumpulan lain seperti Kepanduan Putera Indonesia (KPI), Pandu Puteri Indonesia (PPI), Kepanduan Indonesia Muda (KIM).

Masa perjuangan bersenjata untuk mempertahankan negeri tercinta merupakan pengabdian juga bagi para anggota pergerakan kepanduan di Indonesia, kemudian berakhirlah periode perjuangan bersenjata untuk menegakkan dan mempertahakan kemerdekaan itu, pada waktu inilah Pandu Rakyat Indonesia mengadakan Kongres II di Yogyakarta pada tanggal 20-22 Januari 1950.

Kongres ini antara lain memutuskan untuk menerima konsepsi baru, yaitu memberi kesempatan kepada golongan khusus untuk menghidupakan kembali bekas organisasinya masing-masing dan terbukalah suatu kesempatan bahwa Pandu Rakyat Indonesia bukan lagi satu-satunya organisasi kepanduan di Indonesia dengan keputusan Menteri PP dan K nomor 2344/Kab. tertanggal 6 September 1951 dicabutlah pengakuan pemerintah bahwa Pandu Rakyat Indonesia merupakan satu-satunya wadah kepanduan di Indonesia, jadi keputusan nomor 93/Bag. A tertanggal 1 Februari 1947 itu berakhir sudah.

Mungkin agak aneh juga kalau direnungi, sebab sepuluh hari sesudah keputusan Menteri No. 2334/Kab. itu keluar, maka wakil-wakil organi-sasi kepanduan menga-dakan konfersensi di Ja-karta. Pada saat inilah tepatnya tanggal 16 September 1951 diputuskan berdirinya Ikatan Pandu Indonesia (IPINDO) sebagai suatu federasi.

Pada 1953 Ipindo berhasil menjadi anggota kepanduan sedunia

Ipindo merupakan federasi bagi organisasi kepanduan putera, sedangkan bagi organisasi puteri terdapat dua federasi yaitu PKPI (Persatuan Kepanduan Puteri Indonesia) dan POPPINDO (Persatuan Organisasi Pandu Puteri Indonesia). Kedua federasi ini pernah bersama-sama menyambut singgahnya Lady Baden-Powell ke Indonesia, dalam perjalanan ke Australia.

Dalam peringatan Hari Proklamasi Kemerdekaan RI yang ke-10 Ipindo menyelenggarakan Jambore Nasional, bertempat di Ragunan, Pasar Minggu pada tanggal 10-20 Agustus 1955, Jakarta.

Ipindo sebagai wadah pelaksana kegiatan kepanduan merasa perlu menyelenggarakan seminar agar dapat gambaran upaya untuk menjamin kemurnian dan kelestarian hidup kepanduan. Seminar ini diadakan di Tugu, Bogor pada bulan Januari 1957.

Seminar Tugu ini meng-hasilkan suatu rumusan yang diharapkan dapat dijadikan acuan bagi setiap gerakan kepanduan di Indonesia. Dengan demikian diharapkan ke-pramukaan yang ada dapat dipersatukan. Setahun kemudian pada bulan Novem-ber 1958, Pemerintah RI, dalam hal ini Departemen PP dan K mengadakan seminar di Ciloto, Bogor, Jawa Barat, dengan topik “Penasionalan Kepanduan”.

Kalau Jambore untuk putera dilaksanakan di Ragunan Pasar Minggu-Jakarta, maka PKPI menyelenggarakan perkemahan besar untuk puteri yang disebut Desa Semanggi bertempat di Ciputat. Desa Semanggi itu terlaksana pada tahun 1959. Pada tahun ini juga Ipindo mengirimkan kontingennya ke Jambore Dunia di MT. Makiling Filipina.

Nah, masa-masa kemudian adalah masa menjelang lahirnya Gerakan Pramuka.

Kelahiran Gerakan Pramuka Sunting

Sejarah Pramuka Indonesia Sunting
Gerakan Pramuka lahir pada tahun 1961, jadi kalau akan menyimak latar belakang lahirnya Gerakan Pramuka, orang perlu mengkaji keadaan, kejadian dan peristiwa pada sekitar tahun 1960.

Dari ungkapan yang telah dipaparkan di depan kita lihat bahwa jumlah perkumpulan kepanduan di Indonesia waktu itu sangat banyak. Jumlah itu tidak sepandan dengan jumlah seluruh anggota perkumpulan itu.

Peraturan yang timbul pada masa perintisan ini adalah Ketetapan MPRS Nomor II/MPRS/1960, tanggal 3 Desember 1960 tentang rencana pembangunan Nasional Semesta Berencana. Dalam ketetapan ini dapat ditemukan Pasal 330. C. yang menyatakan bahwa dasar pendidikan di bidang kepanduan adalah Pancasila. Seterusnya penertiban tentang kepanduan (Pasal 741) dan pendidikan kepanduan supaya diintensifkan dan menyetujui rencana Pemerintah untuk mendirikan Pramuka (Pasal 349 Ayat 30). Kemudian kepanduan supaya dibebaskan dari sisa-sisa Lord Baden Powell (Lampiran C Ayat 8).

Ketetapan itu memberi kewajiban agar Pemerintah melaksanakannya. Karena itulah Pesiden/Mandataris MPRS pada 9 Maret 1961 mengumpulkan tokoh-tokoh dan pemimpin gerakan kepanduan Indonesia, bertempat di Istana Negara. Hari Kamis malam itulah Presiden mengungkapkan bahwa kepanduan yang ada harus diperbaharui, metode dan aktivitas pendidikan harus diganti, seluruh organisasi kepanduan yang ada dilebur menjadi satu yang disebut Pramuka. Presiden juga menunjuk panitia yang terdiri atas Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Menteri P dan K Prof. Prijono, Menteri Pertanian Dr.A. Azis Saleh dan Menteri Transmigrasi, Koperasi dan Pembangunan Masyarakat Desa, Achmadi. Panitia ini tentulah perlu sesuatu pengesahan. Dan kemudian terbitlah Keputusan Presiden RI No.112 Tahun 1961 tanggal 5 April 1961, tentang Panitia Pembantu Pelaksana Pembentukan Gerakan Pramuka dengan susunan keanggotaan seperti yang disebut oleh Presiden pada tanggal 9 Maret 1961.

Ada perbedaan sebutan atau tugas panitia antara pidato Presiden dengan Keputusan Presiden itu.

Masih dalam bulan April itu juga, keluarlah Keputusan Presiden RI Nomor 121 Tahun 1961 tanggal 11 April 1961 tentang Panitia Pembentukan Gerakan Pramuka. Anggota Panitia ini terdiri atas Sri Sultan (Hamengku Buwono IX), Prof. Prijono, Dr. A. Azis Saleh, Achmadi dan Muljadi Djojo Martono (Menteri Sosial).

Panitia inilah yang kemudian mengolah Anggaran Dasar Gerakan Pramuka, sebagai Lampiran Keputusan Presiden R.I Nomor 238 Tahun 1961, tanggal 20 Mei 1961 tentang Gerakan Pramuka.

Kelahiran Gerakan Pramuka Sunting
Gerakan Pramuka ditandai dengan serangkaian peristiwa yang saling berkaitan yaitu :

Pidato Presiden/Mandataris MPRS dihadapan para tokoh dan pimpinan yang mewakili organisasi kepanduan yang terdapat di Indonesia pada tanggal 9 Maret 1961 di Istana Negara. Peristiwa ini kemudian disebut sebagai HARI TUNAS GERAKAN PRAMUKA
Diterbitkannya Keputusan Presiden Nomor 238 Tahun 1961, tanggal 20 Mei 1961, tentang Gerakan Pramuka yang menetapkan Gerakan Pramuka sebagai satu-satunya organisasi kepanduan yang ditugaskan menyelenggarakan pendidikan kepanduan bagi anak-anak dan pemuda Indonesia, serta mengesahkan Anggaran Dasar Gerakan Pramuka yang dijadikan pedoman, petunjuk dan pegangan bagi para pengelola Gerakan Pramuka dalam menjalankan tugasnya. Tanggal 20 Mei adalah; Hari Kebangkitan Nasional, namun bagi Gerakan Pramuka memiliki arti khusus dan merupakan tonggak sejarah untuk pendidikan di lingkungan ke tiga. Peristiwa ini kemudian disebut sebagai HARI PERMULAAN TAHUN KERJA.
Pernyataan para wakil organisasi kepanduan di Indonesia yang dengan ikhlas meleburkan diri ke dalam organisasi Gerakan Pramuka, dilakukan di Istana Olahraga Senayan pada tanggal 30 Juli 1961. Peristiwa ini kemudian disebut sebagai HARI IKRAR GERAKAN PRAMUKA.
Pelantikan Mapinas, Kwarnas dan Kwarnari di Istana Negara, diikuti defile Pramuka untuk diperkenalkan kepada masyarakat yang didahului dengan penganugerahan Panji-Panji Gerakan Pramuka, dan kesemuanya ini terjadi pada tanggal pada tanggal 14 Agustus 1961. Peristiwa ini kemudian disebut sebagai HARI PRAMUKA.
Gerakan Pramuka Diperkenalkan Sunting
Pidato Presiden pada tanggal 9 Maret 1961 juga menggariskan agar pada peringatan Proklamasi Kemerdekaan RI Gerakan Pramuka telah ada dan dikenal oleh masyarakat. Oleh karena itu Keppres RI No.238 Tahun 1961 perlu ada pendukungnya yaitu pengurus dan anggotanya.

Menurut Anggaran Dasar Gerakan Pramuka, pimpinan perkumpulan ini dipegang oleh Majelis Pimpinan Nasional (MAPINAS) yang di dalamnya terdapat Kwartir Nasional Gerakan Pramuka dan Kwartir Nasional Harian.

Badan Pimpinan Pusat ini secara simbolis disusun dengan mengambil angka keramat 17-8-’45, yaitu terdiri atas Mapinas beranggotakan 45 orang di antaranya duduk dalam Kwarnas 17 orang dan dalam Kwarnasri 8 orang.

Namun dalam realisasinya seperti tersebut dalam Keppres RI No.447 Tahun 1961, tanggal 14 Agustus 1961 jumlah anggota Mapinas menjadi 70 orang dengan rincian dari 70 anggota itu 17 orang di antaranya sebagai anggota Kwarnas dan 8 orang di antara anggota Kwarnas ini menjadi anggota Kwarnari.

Mapinas diketuai oleh Dr. Ir. Soekarno, Presiden RI dengan Wakil Ketua I, Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Wakil Ketua II Brigjen TNI Dr.A. Aziz Saleh.

Sementara itu dalam Kwarnas, Sri Sultan Hamengku Buwono IX menjabat Ketua dan Brigjen TNI Dr.A. Aziz Saleh sebagai Wakil Ketua merangkap Ketua Kwarnari.

Gerakan Pramuka secara resmi diperkenalkan kepada seluruh rakyat Indonesia pada tanggal 14 Agustus 1961 bukan saja di Ibukota Jakarta, tapi juga di tempat yang penting di Indonesia. Di Jakarta sekitar 10.000 anggota Gerakan Pramuka mengadakan Apel Besar yang diikuti dengan pawai pembangunan dan defile di depan Presiden dan berkeliling Jakarta.

Sebelum kegiatan pawai/defile, Presiden melantik anggota Mapinas, Kwarnas dan Kwarnari, di Istana negara, dan menyampaikan anugerah tanda penghargaan dan kehormatan berupa Panji Gerakan Kepanduan Nasional Indonesia (Keppres No.448 Tahun 1961) yang diterimakan kepada Ketua Kwartir Nasional, Sri Sultan Hamengku Buwono IX sesaat sebelum pawai/defile dimulai.

Peristiwa perkenalan tanggal 14 Agustus 1961 ini kemudian dilakukan sebagai HARI PRAMUKA yang setiap tahun diperingati oleh seluruh jajaran dan anggota Gerakan Pramuka.

Tujuan Gerakan Pramuka Sunting

Gerakan Pramuka bertujuan untuk membentuk setiap pramuka:

Memiliki kepribadian yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, berjiwa patriotik, taat hukum, disiplin, menjunjung tinggi nilai-nilai luhur bangsa, berkecakapan hidup, sehat jasmani, dan rohani;
Menjadi warga negara yang berjiwa Pancasila, setia, dan patuh kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia serta menjadi anggota masyarakat yang baik, dan berguna,
yang dapat membangun dirinya sendiri secara mandiri serta bersama-sama bertanggungjawab atas pembangunan bangsa, dan negara, memiliki kepedulian terhadap sesama hidup, dan alam lingkungan.[4]

Prinsip Dasar Kepramukaan Sunting

Lambang Kwarnas Gerakan Pramuka Indonesia

Artikel utama untuk bagian ini adalah: Prinsip Dasar Kepramukaan
Gerakan Pramuka berlandaskan prinsip-prinsip dasar[4] sebagai berikut:

Iman, dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Peduli terhadap bangsa, dan tanah air, sesama hidup, dan alam seisinya.
Peduli terhadap dirinya pribadi.
Taat kepada Kode Kehormatan Pramuka.
Metode Kepramukaan Sunting

Artikel utama untuk bagian ini adalah: Metode Kepramukaan
Metode Kepramukaan[4] merupakan cara belajar interaktif progresif melalui:

Pengamalan Kode Kehormatan Pramuka.
Belajar sambil melakukan.
Kegiatan berkelompok, bekerjasama, dan berkompetisi.
Kegiatan yang menarik, dan menantang.
Kegiatan di alam terbuka.
Kehadiran orang dewasa yang memberikan bimbingan, dorongan, dan dukungan.
Penghargaan berupa tanda kecakapan.
Satuan terpisah antara putra, dan putri.
Keanggotaan Sunting

Anggota Gerakan Pramuka[5] terdiri dari Anggota Muda, dan Anggota Dewasa. Anggota Muda adalah Peserta Didik Gerakan Pramuka yang dibagi menjadi beberapa golongan di antaranya:

Golongan Siaga merupakan anggota yang berusia 7 s.d. 10 tahun
Golongan Penggalang merupakan anggota yang berusia 11 s.d. 15 tahun
Golongan Penegak merupakan anggota yang berusia 16 s.d. 20 tahun
Golongan Pandega merupakan anggota yang berusia 21 s.d. 25 tahun
Anggota yang berusia di atas 25 tahun berstatus sebagai anggota dewasa. Anggota dewasa Gerakan Pramuka terdiri atas:

Tenaga Pendidik
Pembina Pramuka
Pelatih Pembina
Pembantu Pembina
Pamong Saka
Instruktur Saka
Fungsionaris
Ketua, dan Andalan Kwartir (Ranting s.d. Nasional)
Staf Kwartir (Ranting s.d. Nasional)
Majelis Pembimbing (Gugus Depan s.d. Nasional)
Pimpinan Saka (Cabang s.d. Nasional)
Anggota Gugus Dharma Gerakan Pramuka
Gerakan Pramuka Indonesia memiliki 17.103.793 anggota (per 2011)[6], menjadikan Gerakan Pramuka sebagai organisasi kepanduan terbesar di dunia.

Lambang Sunting

Artikel utama untuk bagian ini adalah: Lambang Pramuka
Lambang Gerakan Pramuka[4] adalah Tunas Kelapa,

Sifat Sunting

Berdasarkan resolusi Konferensi Kepanduan Sedunia tahun 1924 di Kopenhagen, Denmark, maka kepanduan mempunyai tiga sifat atau ciri khas, yaitu:

Nasional
Organisasi yang menyelenggarakan kepanduan di suatu negara haruslah menyesuaikan pendidikannya itu dengan keadaan, kebutuhan, dan kepentingan masyarakat, bangsa, dan negara.

Internasional
Organisasi kepanduan di negara manapun di dunia ini harus membina, dan mengembangkan rasa persaudaraan, dan persahabatan antara sesama Pandu, dan sesama manusia, tanpa membedakan kepercayaan/agama, golongan, tingkat, suku dan bangsa.

Universal
Kepanduan dapat dipergunakan di mana saja untuk mendidik anak-anak dari bangsa apa saja

Lagu Sunting

H. Mutahar salah seorang pejuang, penggubah lagu, dan tokoh Pramuka menciptakan sebuah Hymne Pramuka bagi Gerakan Pramuka. Lagu itu berjudul Hymne Pramuka. Hymne Pramuka menjadi lagu yang selalu dinyanyikan dalam upacara-upacara yang dilaksanakan dalam Gerakan Pramuka.

Syair lagu Hymne Pramuka adalah


Kami Pramuka Indonesia
Manusia Pancasila
Satyaku kudharmakan, dharmaku kubaktikan
agar jaya, Indonesia, Indonesia
tanah air ku
Kami jadi pandumu.


Kode Kehormatan Sunting

Kode kehormatan dalam Gerakan Pramuka terdiri dari Tiga Janji yang disebut “Trisatya” dan Sepuluh Moral yang disebut “Dasadarma”. Khusus untuk golongan siaga kode kehormatan terdiri dari Dua Janji yang disebut “Dwi Satya” dan Dua Moral yang disebut “Dwi Darma”

Trisatya Pramuka
Demi kehormatanku aku berjanji akan bersungguh-sungguh:

Menjalankan kewajibanku terhadap Tuhan, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia, mengamalkan Pancasila
Menolong Sesama Hidup, dan Mempersiapkan diri/ikut serta membangun masyarakat
Menepati dasa darma
Dasadarma Pramuka
Taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Cinta Alam, dan kasih sayang sesama manusia.
Patriot yang sopan, dan kesatria.
Patuh, dan suka bermusyawarah.
Rela menolong, dan tabah.
Rajin, terampil, dan gembira.
Hemat, cermat, dan bersahaja.
Disiplin, berani, dan setia.
Bertanggung jawab, dan dapat dipercaya.
Suci dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan.
Badge Kwartir Daerah Gerakan Pramuka (sekarang) Sunting

Sumatera Sunting

NAD

Sumatera Utara

Sumatera Barat

Bengkulu

Riau

Kepulauan Riau

Jambi

Sumatera Selatan

Lampung

Bangka Belitung

Jawa Sunting

Jakarta

Jawa Barat

Banten

Jawa Tengah

Yogyakarta

Jawa Timur

Kalimantan Sunting

Kalimantan Barat

Kalimantan Tengah

Kalimantan Selatan

Kalimantan Timur

Kalimantan Utara

Bali dan Nusa Tenggara Sunting

Bali

Nusa Tenggara Barat

Nusa Tenggara Timur

Sulawesi Sunting

Sulawesi Barat

Sulawesi Utara

Sulawesi Tengah

Sulawesi Selatan

Sulawesi Tenggara

Gorontalo

Kepulauan Maluku dan Papua Sunting

Maluku

Maluku Utara

Papua

Papua Barat

Lambang Kwartir Daerah Gerakan Pramuka (dulu) Sunting

Kwartir Daerah Jawa Barat

Kwartir Daerah Irian Jaya

Kwartir Daerah Sumatera Barat

Kwartir Daerah Timor Timur

Lihat pula Sunting

Seragam Pramuka
Pramuka Penggalang
Pramuka Siaga
Pramuka Penegak
Referensi Sunting

Wikisource memiliki naskah sumber yang berkaitan dengan artikel ini:
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2010

^ a b c Buku Panduan Museum Sumpah Pemuda. Museum Sumpah Pemuda, Jakarta. 2009.
^ Liga Pemuda Pramuka
^ Wakil Presiden Sosialisasikan Undang-Undang Pramuka, tempo interaktif. Diakses pada 27 September 2011.
^ a b c d Anggaran Dasar Gerakan Pramuka (Hasil Munaslub 2012 ed.). Kwartir Nasional, Jakarta. 2012.
^ Anggaran Dasar Gerakan Pramuka (Hasil Munaslub 2012 ed.). Kwartir Nasional, Jakarta. 2012.
^ “Sensus Pramuka Indonesia” (PDF). World Organization of the Scout Movement. Diakses tanggal 13 Januari 2013.
Pranala luar Sunting

Wikisource memiliki naskah sumber yang berkaitan dengan artikel ini:
Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 448 Tahun 1961

(Indonesia) Situs web resmi Pramuka
(Indonesia) Situs web Pramuka Indonesia
Terakhir disunting 3 hari yang lalu oleh Kenrick95Bot
RELATED PAGES
Hamengkubuwana IX
Lambang Pramuka
Kwartir Nasional
Wikipedia®

Konten tersedia di bawah CC BY-SA 3.0 kecuali dinyatakan lain.
PrivasiTampilan PC

MERDEKA KELIHATANNYA, DIJAJAH SEBENARNYA

       penindasan para sekutu membuat bangsa Indonesia menginginkan kemerdekan.
       Dimulai tahun 1942 Indonesia telah dijajah jepang. Dengan sadisnya perlakuan jepang terhadap rakyat pribumi dan oleh sebab itu para pahlawanpun gentar menyerang.
        Dengan semangat yang membara, mereka rela mati dan menyerahkan jiwa serta raga mereka demi kemerdekaan negara Indonesia.
         Tak takut para kaum ulama serta masyarakat melawan dengan penuh kebringasan.
          Karena impian seluruh penduduk pribumi Indonesia akhirnya terus berjuang untuk kemerdekaan, itu dari bentuk fisik maupun politik para pejuang bangsa.
            Akhirnya impian dapat terwujud. Kaprena jepang kalah dalam perang pasifik maka pada saat itu Indonesia sedang vacum of power dari ini para kaum muda memaksa pimpinan negara Indonesia untuk memproklamasi kan kemerdekaan Indonesia, akhirnya waktu tiba pada 17 Agustus 1945 Indonesia dapat merdeka yang pada saat itu naskah kemerdekaan dibacakan oleh Ir. Soekarno atau sering kita sebut Bung karno.
     
       Kita sebut ini merdeka, tapi bagaimana dengan penjajahan yang masih ada di negara ini apakah penjajahan itu melalui peperangan ?
        Para sekutu sebenarnya telah menjajah Indonesia bukan dengan sebuah peperangan tapi musuh kita sudah sangat pintar. Dengan melalui apa jadinya kita dijajah ?
         Kita telah dijajah dengan iptek yang semakin merajalela di bumi tanah air Indonesia. Bagaimana tidak jika sekarang beda dengan jaman dahulu para pejuang bangsa lebih berfikiran kedepan. Mudah para anak anak jaman sekarang telah memiliki yang namanya handphone bagaimanapun handphone jaman sekarang memiliki kemajuan yang pesat seperti banyak media sosial sebagai salah satu kemajuan yang pesat tersebut.
           Kita mengerti itu hal yang baik tapi bagaimana anak anak jaman sekarang seperti telah di hipnotis oleh kedatangan handphone tersebut karena bagaimana anak anak jaman sekarang sosialisasinya menjadi berkurang dan itulah yang bangsa bangsa lain senang.
          Ketahuilah teman jika handphone tersebut adalah buatan negara lain, kenapa dikirim di Indonesia ? Dengan kata lain ‘tuk memengaruhi’ agar Indonesia tak maju dan agar Indonesia menjadi negara yang hanya bisa menikmati buatan teknologi negara lain.
       Sadarlah, mirip kita pernah dengar FDR atau PKI yang pernah menjajah indonesia hingga masuk ke dasar negara sampai hampir mengantikan paham dasar negara indonesia dengan jalan pemerintahan komunisme. Kita ketahui lagi perbedaan indonesia ini hanya sebuah hal mudah agar Indonesia terpecah belah dengan keadaan agamanya, ras, warna kulit, hingga pemerataan pembagunan di seluruh Indonesia menjadi tak merata hingga terbentuklah suatu perkumpulan yang menentang negara seperti pernah kita ketahui gerakan aceh merdeka, dan organisasi papua merdeka. Itu adalah sebab rakyat tak punya kesabaran dan berujung kemarahan tentang bagaimana perbedaan perhatian tentang masalah yang dimiliki rakyat di daerah daerah tak terjangkau. Ada kenangan bangsa Indonesia yang menyebabkan harus lepasnya daerah negara Indonesia yaitu Timor Leste atau yang dulu dikenal Timor Timor.
        Maka dari pengalaman tersebut mari kita ambil hikmatnya rubahlah seluruh pandangan negatif bangsa seperti diskriminasi hingga pola hidup yang penuh soaialisasi agar negara Indonesia sampai pada tujuan negara.

SESAL

      Apa yang akan kukatakan tak mudah aku lupakan, apa yang aku perbuat tak mudah sekarang dilakukan, dan apa yang aku tulis begitu sulit aku hapuskan.
      Seorang apa aku ini, aku tak berdaya saat menghadapi semua. Tiada semangat yang lebih kuat daripada masalah ini. Semua derita, semua keirian, semua luka, semua duka, semua tangis, semua kengerian, aku lakukan.
      Apa yang telah aku pilih hingga saatnya tiba sebuah penghianatan, kebohongan, keingkaran janjinya. Dan disaat akhir ini aku mengerti bahwa fikirku tak lagi baik, aku tak memakai otak, hingga logis rasanya semua yang kulakukan itu benar.
       Tak ingin disalahkan dan selalu mencari alasan. Aku menangis tapi sia sia, aku berdoa tapi belum tiba saatnya tuhan mengubahnya, aku bermimpi tapi tak kucapai apa yang aku impikan. Semua itu telah terlambat, semua itu telah hilang, bahkan semua itu telah sirna.
       Apa ini sebuah takdir hidup hingga aku pun tak dapat menghindarinya dari hidupku. Hingga begitu melekat pada raga ini tak mudah aku tak terjatuhkan, saat kemenangan hanya sebuah cita cita belaka yang tak ada artinya.
       Semua telah terjadi, semua ini telah pasti, kelam hidup menantangku dipenjuru pintu kehidupanku, bagai malaikat pencabut nyawa dan aku hanya pasrah kepadanya.
       Dia hukum yang tak mudah aku hindari biar karena sebuah tindakan salah yang aku ingkari. Karena sebuah pilihan salah yang telah aku pilih, karena sebuah perbuatan brutal hingga mengakibatkan vatal.
       Bukan hanya sebuah tangis yang mebuahkan aku sedih, tapi sedih itu melekat hingga kepenjuru nadiku, kepenjuru darahku, kepenjuru nafas ini masih berhembus, kepenjuru hati ini masih memastikan, dan kepenjuru syaraf hingga tulang, masih tetap dia terjang.
        Tak lelahkah kau teman atas semua yang kaulakukan tapi aku mengerti bahwa hal ini hanya sebuah kepastian.
       Rasanya ingin bunuh diri tapi percaya menghalanginya. Alunan melodi dalam dunia ini membuatku membuka mata sejenak dari keterpurukanku, hingga keleluasaan dapat aku miliki bukan lain hanya sebuah kata hati.
     Aku tak ingin lakukan hal sesuatu karena hasrat ini mendorongku agar tetap diam, tak usah lakukan apapun hingga akupun merasa bebas dari bebanku.
      Orang orang belum tau, orang orang belum mengerti, tapi apa guna aku bersembunyi tak pasti hanyalah kata sia sia, semua akan terungkap begitu jelasnya.

Tuhan ungkap jelas hidupku hingga terbuka dengan lebar. Dan berkata tak layak hidup dalam dunia ini. Kenapa karena orang mengenaliku dan aku merasa sakit hati jika jeritan kesunyian yang membelah keheningan fikiran ini terus ada.
Aku tinggal nama dan kotor ternodai bahkan sampai keseluruh hubunganku.
Tak peduli orang berkata tak bermutu. Karena memang ini yang hanya aku bisa pasrahkan. Dan ini yang hanya aku bisa lakukan dan jelaslah semuanya.
Menyendiri adalah hal terbaik dan paling favorit tapi apa guna. Karena kejatuhanku hanya menunggu waktu, aku akan mencoba bahagia sebisaku saat aku mempunyai tujuan yang tentunya telah pasti.
Inginku tak lebih dari seribu bahsa, dan tak lebih dari seribu kata. Hanya sebuah kata yaitu sembuh dari hidup ini yang telah aku sesali dan tak ada arti.

BANGKIT

      Lihatlah aku yang lemah. Lihatlah aku yang tak berdaya. Lihatlah bagaimana perjuanganku. Bagaimanapun kalian bukan penguasa segalanya.
       Aku merasa susah dengan keadaan ini. Kucoba tuk setiap hari menyendiri tanpa soaialisasi. Tapi tak kuduga teman selalu menghampiri.
          saat sebuah cobaan mencengkeram. Fikirku, hatiku, dan jiwaku selalu berfikir yang sama. bagaimanapun jiwa ini telah terlatih tuk disakiti aku tak mengerti kau telah hianati.
        Hingga tiba saatnya akupun melihat dia telah pergi putuskan cinta ini, aku telah terjatuh dalam sebuah cobaan. Kutermakam dan bungkam duka dalam. Biarpun mereka tau aku telah tak berdaya.
        Tetapi aku masih melihat begitu terangnya cahaya yang ada dikeningku dengan jelas. Ia memberitahuku bahwa aku harus menjadi orang yang berarti bagi dia meski dia akan tersakiti oleh perasaannya sendiri.
         Dalam hal menjaga mempersatukan bangsa dan melihat begitu jelas bagi mereka yang tau akan hal tersebut.
         Dan karena itulah aku dapat bertahan meski menjadi sebuah kata kata yang sebenarnya tak berarti setelah aku merasakan.
         Merasakan begitu sulitnya perjuangan. Perjuangan terhadap segala seauatu yang menjadikanku harus lebih tau akan semua hal yang kudapatkan.
         Dan berfikiran itu dapat dicapai atau tidak tapi harus diperjuangkan demi tujuan tersebut karena tujuan tersebut adalah BANGKIT.
Dalam hal tersebut ku bangkit karena percaya kepada siapa saja yang memang tau tentang sifatku. Kepercayaanku tersebut yang membuat aku semangat dalam hal hal yang aku sukai.
Bukan hanya percaya kepada orang yang aku percayai tapi bagaimana menjaga sesuatu dalam hal yang tidak nantinya aku sia siakan dalam memilih.
Hari bagaimana seseorang dapat memgetahui bahwa kebangkitan tersebut dapat merubah lembaran lama menjadi baru. Dan yang memang dinantikan adalah dimana semua itu akan menjadi keseuksesan yang nyata. Dan tak menjadi hal yang buruk dari rillnya kehidupan dan cobaan dunia.

AKU

   Berkata penindasan orang orang yang tau tentang diriku telah membuat aku segan berbicara pada orang yang sering ada didekatku.

    Walau daku mengerti diriku tak ada arti dimatanya. Silahkan tinggalkan aku walau kau juga akan tau semua itu sia sia, waktu fikirmu dan perjuanganmu. Tapi yang sering membuat daku masih tetap bergerak adalah dirimu yang masih tertanam dijiwaku.

    Agar semua tau bahwa hukuman yang setimpal dalam apa yang dilakukan adalah kepercayaannya sendiri dalam suatu hukumnya tapi biarlah aku tau bahwa seseorang dapat membaca fikiranku dalam sebuah cerita yang tak nyata. Karena fikir mereka adalah salah bagi fikirku.

    Dan mengerti siapa aku bagi orang yang menyetarakan aku bersama orang orang biasa, karena semua itu bagiku adalah tak adil bagi mereka karena dimana aku yang menjadi ditinggi tinggikan di atas orang orang biasa dan mengangap aku orang terhebat padahal aku tau bahwa aku adalah orang biasa saja dihadapan masyarakat luar karena tau seperti itulah yang membuat aku terdorong untuk hidup menderita daripada harus hidup tanpa sebuah perjuangan.

   Aku merangkak dikelam suatu kata yang membanjiri hidup ini yang membuat aku harus hidup terperangah dalam pengorbanan. Rasaku mulai tertekan atas pernyataanku sendiri.

    Aku telah terkapar dan luka dalam hati hasrat dan jiwa yang selalu membuat aku harus mengerti bahwa tidak seharusnya seseorang tau tentang apa arti dari diriku.

    Aku adalah duka dulu dan sekarang yang selalu tidak pernah berubah dan tak pernah khilaf atas semua yang kulakukan, dimana saat kulakukan hal tersebut aku menjadi lebih baik dan tak melangkah ke hal yang dapat lebih merusak diriku.

    Aku tau bahwa walau seperti itu aku harus berubah karena aku tau bahwa apa yang telah kulakuan itu yang membuat aku terpuruk dan didapat menghentikan seluruh perjuangan yang sampai saat ini masih cukup sia sia bagiku.

    Setan dan iblis adalah temanku dimana aku harus berbagi karena tau bahwa aku adalah orang yang lemah dan selalu membuat janji janji tentang hal tersebut. Dan dosa adalah suatu kegiatan yang harus kulakukan setiap waktu karena tau bahwa itu adalah hal terburuk dalam iman dan hal terbaik dalam fikiran.

   Aku itu bukanlah seseorang yang ramah selalu berfikir prasangka tapi tau bahwa ilmuku adalah tau tentang apa arti semua ini.

    Kutuliskan dalam sebuah kenanangan yang tak terlupakan tersimpan baik meski dapat hilang begitu saja. Dan mengerti musuh terberatku adalah sifat buruku dia bagaikan parasit yang selalu menempel dan tak mau hilang karena perbuatanku.

   Jiwaku tertanam sebagai seorang pahlawan tak pernah beramal kebaikan dan tak pernah berubah sebelum aku berubah dahulunya.

    Dan kutau kata kata ini lah yang membuat aku lupa dan tersirat untuk bosan mengulangi lagi tapi bagaimana sebagian orang anggap aku biasa saja dan tak ada maksudnya.

    Karena tau fikiran ini sunyi dalam tidak memfikirkan apa apa bagaimana seseorang jika aku terus ulang kebiasaanku mereka juga akan tau bahwa itu adalah mimpi.

Posted in aku

BERTAHAN

Hari itu masih gelap terhembus awan hitam pekat. Saat saat jiwa dan raga aku korbankan penuh pertimbangan. Tak gencar musuh musuh menyerang. Tak takut sekutbertindak sewenang  wenang. biar mereka tau bahwa aku disini bukanlah hanya untuk berdiam diri. Melainkan bukan juga saja untuk hanya bertahan.
Aku tau aku tak seperti yang lain. Aku juga mengerti bahwa aku juga tak sehebat mereka, sadar dan paham bahwa tak bisa begitu saja berbahagia dengan dia. Melainkan bahwa harus tau posisi dan tindakan apa yang terjadi, jika kulakukan ini. Tahap demi tahap telah kulalui penuh hati yang tenang dan fikiran yang sunyi. Tidak juga tidak sering wajah berekspresi takut pasi, bahkan perasaan bimbang selalu menghantui. Tapi segala rintang sabar kulalui.
Benteng benteng musuh mendekat ke pertahanan, pasukan pasukan sekutupun tak henti hentinya menyerang. Akupun mulai takut karena hal tersebut. Daerah kekuasaan telah dicuri dan dirampas. Kewibawaanku pun diinjak bagai orang orang bawahan.
Tapi selagi mereka memperluas kekuasaan jajahan mereka akupun tak hentinya melakukan berbagai trik dan cara. Tapi jarang ada yang berhasil dan mendekat ke tujuan penyerangan.
Mata batinku mulai putus asa. Jiwa inipun tertancap panah dan luka. Hati terbuai janji janji palsu daerah jajahanku.
Dan janji persetujuan pelepasanpun ada di dekat tanganku. Bukan tuk cari masalah hanya malas untuk mencari begitupun fikiran telah bertindak.

Aku tak mengerti banyak salahku hingga dikau tinggalkan daku. Jiwa ini telah pedih kau sakiti dengan janji palsumu. Bukan hanya kau jual murah cintaku, tapi begitupun hatiku telah terbuai sumpah sehidup semati, ikrarkan proklamasi kemerdekaan cinta, tapi takut untuk bicara. Ku takut bahwa semua itu tidak tercapai semestinya bahkan aku tak mau batinku terluka.
Semestinya aku bicara dan putuskan cintanya sejak dulu, karena aku baru tau bahwa semua yang telah dilalui bersama itu sia sia.
Kau bungkamkan aku, kau sakiti hati ini, kau tinggalkan jauh aku dijalan perbatasan dunia tak nyata, kau buat aku kecewa karena tau bahwa itu semua hilang dan sirna, dan takut akan semua yang telah kulalui itu berubah menjadi lawan yang menantang bagi diriku sendiri. Aku ingin sempindang jiwa ini semu. Dan aku inginkan ku tak lahir didunia ini karena dunia ini hanyalah panggung sandiwara.

Kubangkit berdiri meratapi semuanya. Keterpurukanku yang buat aku malu, dan menyesal pada hari hari lalu. Jiwa ini telah letih jiwa ini telah marah. Bukan hanya sebuah kata kata tapi bagaimana hati ini menjadi sendirian tak tau arah pasti.
Kutuliskan lirik lagu kematian, dan kunyanyikan lagu tersebut dengan penuh perasaan. Tabah dan khidmat adalah jalurku menjalani begitu banyak hari hari untuk selalu bertahan.

Darah ini berceceran dimana mana ditembak, disayat menjadi penuh luka yang tak mudah sembuh begitu saja. Aku telah terkapar dan luka meratapi janji yang tak tertepati. Dan karena itulah akhirnya aku mengerti bahwa kemerdekaan ini tidak mudah kulalui.